Diagonal Select - Hello Kitty 2

Resume 3. Psikologi Pendidikan

 BAB 12. PSIKOLOGI PENDIDIKAN : Perencanaan dan Instruksi  Teacher-Centered

PERENCANAAN
Perencanaan penting adanya untuk menjadi guru yang kompeten.

PERENCANAAN INSTRUKSIONAL
Perencanaan instruksional adalah pengembangan atau penyusutan strategi sistematik dan tertata untuk merencanakan pelajaran. Seorang guru yang kompeten seharusnya sudah merencanakan apa saja yang akan ia ajarkan dikelas walupun terkadang pengajaran bisa diluar perencanaan. Mungkin hal ini akan menjadi sangat melelahkan jika meluangkan waktu banyak untuk menulis pelajaran. Namun hal ini sangat baik untuk meningkatkan kepercayaan diri ketika mengajar dan memberikan kita wawasan lebih dari sebelumnya sebelum kita mengajar. Dan jika guru tersebut tidak datang maka guru pengganti akan dengan mudah melaksanakan rencana yang telah dibuat itu.

KERANGKA WAKTU
Menyusun kerangka waktu yang sistematis membutuhkan pengetahuan tentang apa saja yang perlu dilakukan dan kapan melakukannya, atau perlu fokus pada “tugas” dan “waktu”.
Cara membuat kerangka waktu
1.      Apa yang perlu dilakukan
a.       Menentukan tujuan instruksional (apa yang harus dicapai?)
b.      Merencanakan kegiatan (apa yang harus dilakukan untuk mencapainya?)
c.       Menentukan prioritas (tugas mana yang lebih penting?)
2.      Waktu melakukannya
a.       Membuat estimasi waktu (berapa lama kurun waktu yang dibutuhkan untuk setiap kegiatan?)
b.      Membuat jadwal (kapan kegiatan akan dilakukan?)
c.       Fleksibel (bagaimana menangani situasi yang tak terduga?)


PERENCANAAN DAN INSTRUKSI PELAJARAN TEACHER-CENTERED

PERENCANAAN TEACHER-CENTERED
1.      Menciptakan sasaran behavioral.
Sasaran behavioral adalah pernyataan tentang perubahan yang diharapkan oleh guru akan terjadi dalam kinerja murid. Menurut Robert Mager sasaran behavioral harus mengandung tiga hal ini :
a.       Perilaku murid. Fokus pada apa yang akan dipelajari oleh murid.
b.      Kondisi dimana perilaku terjadi. Menyatakan bagaimana perilaku akan di evaluasi atau dites.
c.       Kriteria kinerja. Menentukan level kinerja yang dapat diterima.
2.      Menganalisi tugas.
Analisis tugas difokuskan pada pemecahan suatu tugas kompleks yang dipelajari murid menjadi komponen-komponen. Analisis dapat melalui tiga langkah dasar.
a.       Menentukan keahlian atau konsep yang diperlukan murid untuk mempelajari tugas.
b.      Mendaftar materi yang dibutuhkan untuk melakukan tugas
c.       Mendaftar semua komponen tugas yang harus dilakukan

3.      Menyusun taksonomi instruksional.
Taksonomi adalah sistem klasifikasi dan taksonomi ini dikembangkan oleh Benjamin Bloom dan kawan-kawannya.taksonomi ini mengklasifikasikan sasaran pendidikan menjadi tiga dominan : kognitif, afektif, dan psikomotor
a.       Dominan kognitif.
Taksonomi kognitif mengandung enam sasaran :
·         Pengetahuan. Kemampuan murid dalam mengingat dan informasi.
·         Pemahaman. Kemampuan murid dalam memahami informasi tersebut.
·         Aplikasi. Murid menggunakan pengetahuan dan pemahamannya pada kehidupan sehari-harinya.
·         Analisis. Murid memecahkan informasi kompleks m enjadi bagian kecil-kecil.
·         Sintesis. Murid mengombinasi informasi-informasi menjadi hal baru.
·         Evaluasi. Murid membuat penilaian dan keputusan yang baik.
b.      Dominan afektif
Taksonomi efektif terdiri dari lima sasaran yang berhubungan dengan respon emosional terhadap tugas :
·         Penerimaan. Murid termotivasi untuk belajar  sesuatu pada lingkungannya.
·         Respons. Murid termotivasi untuk belajar menunjukkan perilaku baru sebagai hasil dari pengalamannya.
·         Menghargai. Murid terlibar atau berkomitmen pada beberapa pengalaman.
·         Pengorganisasian. Murid mengintegrasikan nilai baru ke perangkat nilai yang sudah ada dan memberikan prioritas yang tepat.
·         Menghargai karakterisasi. Murid bertindak sesuai dengan nilai tersebut dan berkomiten kepada nilai tersebut.
c.       Dominan psikomotor
Kebanyakan dari kita menghubungkan aktifitas motoric dengan pendidikan fisik dan atletik, tetapi banyak subjek lain, seperti menulis dengan tangan dan pengelolahan kata juga membutuhkan gerakan. Sasaran psikomotor adalah :
·         Gerak reflex. Murid merespon suatu stimulus secara reflex tanpa perlu banyak berfikir
·         Gerak fundamental dasar. Murid melakukan gerakan dasar untuk tujuan tertentu
·         Kemampuan perseptual. Murid menggunakan indra untuk melakukan sesuatu
·         Kemampuan fisik. Murid mengembangkan daya tahan kekuatan, fleksibilitas dan kegesitan.
·         Gerakan terlatih. Murid melakukan keterampilan fisik yang kompleks dengan lancer.
·         Perilaku nondiskusif. Murid mengomunikasikan perasaan dan emosinya melalui gerakan tubuh.

INSTRUKSI LANGSUNG
Instruksi langsung adalah pendekatan teacher-centered yang terstruktur yang dirincikan oleh arahan dan kontrol guru, ekspektasi guru yang tiggi atas kemajuan murid maksimalisasi waktu yang dihabiskan murid untuk tugas-tugas akademik, dan usaha oleh guru menimalkan pengaruh negative terhadap murid.

STRATEGI INTRUKSIONAL TEACHER-CENTERED
1.      Megorientasikan. Sebelum menyajikan dan menjelaskan materi baru , susunlah kerangka pelajaran dan orientasikan murid ke materi baru tersebut. Orientasi dan strukturisasi pada awal pelajaran itu mempengatuhi perbaikan prestasi murid.
2.      Advance organizer. Aktivitas dan teknik pengajaran dengan membuat kerangka pelajaran dan mengorientasikan murid pada materi sebelum materi itu diajarkan.
3.      Comparative advance organizer. Memperkenalkan materi baru dengan mengaitkannya dengan apa yang sudah diketahui murid.
4.      Mastey learning. Pembelajaran satu konsep atau topic secara menyeluruh sebelum ke topic yang lebih sulit.
5.      Seatwork. Menyusun semua mrid atau sebagian besar murid untuk belajar sendiri-sendiri dibangku mereka.
6.      Pekerjaan rumah. Keputusan instruksional penting lainnya adalah seberapa banyak dan apa jenis pekerjaan rumah harus diberikan kepada murid.

MENGEVALUASI INSTRUKSI TEACHER-CENTERED
1.      Jadilah perencana yang rapi dan ciptakan sasaran instruksional
2.      Selalu berharap agar murid mendapatkan kemajuan dan memastikan agar murid mendapat waktu pembelajaran akademik yang memadai.
3.      Luangkan waktu utnuk memberikan orientasi pelajaran.
4.      Gunakan metode lecturing , penjelasan dan demonstrasi guna membantu beberapa aspek dari pembelajaran murid.
5.      Libatkan murid dalam pembelajaran dengan mengembangkan keterampilan mengajukan pertanyaan yang baik dan meminta mereka ikut dalam diskusi kelas.
6.      Suruh murid mengerjakan seatwork
7.      Beri pekerjaan rumah kepada murid untuk meningkatkan waktu pembelajaean akademik dan libatkan orang tua untuk membantu pembelajaran anak.



Resume 2 Psikologi Pendidikan

BAB 7. PSIKOLOGI PENDIDIKAN : Pembelajaran Menggunakan Pendekatan Behavioral
APA ITU PEMBELAJARAN?
Pembelajaran adalah fokus utama dalam psikologi pendidikan. Pembelajaran dapat didefenisikan sebagai pengaruh permanen atas perilaku, pengetahuan, dan keterampilan berfikir dan diperoleh melalui pengalaman.
PENDEKATAN UNTUK PEMBELAJARAN
Behavioral. Behaviorisme adalah pandangan yang menyatakan bahwa perilaku harus dijelaskan melalui pengalaman yang dapat diamati, bukan dengan proses mental. Proses mental didefenisikan oleh psikolog sebagai pikiran, perasaan dan motif yang kita alami namun tidak bisa dilihat oleh orang lain.
Pandangan behavioral dalam pembelajaran ada dua yaitu pengkondisian klasik dan operan. Kedua pandangan ini menekankan pembelajaran asosiati yang terdiri dari pembelajaran bahwa dua kejadia saling berkaitan. Misalnya ketika seorang anak mengasosiasikan belajar dengan hadiah.
Kognitif. Psikologi semakin cenderung ke pandangan kognitif selama decade akhir abad ke 20 dan penekanan kognitif ini terus berlanjut sampai sekarang. Penekanan kognitif menjadi basis bagi banyak pendekatan untuk pembelajaran.
Empat pendekatan kognitif untama untuk pembelajaran :
1.      Kognitif sosial, menekankan tentang bagaimana faktor perilaku, lingkungan, dan orang saling berinteraksi memengaruhi proses pembelajaran
2.      Pemrosesan informasi, menitik beratkan bagaimana anak memproses informasi melalui perhatian, ingatam, pemikiran, dan proses kognitif lainnya
3.      Konstruktivis kognitif, menekankan konstruksi kognitrif terhadap pengetahuan dan pemahaman
4.      Konstruktivis sosial, fokus pada kolaborasi dengan orang lain untuk menghasilakan pengetahuan dan pemahaman.
 PENDEKATAN BEHAVIORAL UNTUK PEMBELAJARAN
Pengkondisian Klasik
            Pengkondisian klasik adalah tipe pembelajaran dimana sebuat stimulus menimbulkan respon setelah dipasangkan dengan stimulus yang secara alami memunculkan respon tersebut.
Pavlov telah melakukan penelitian terkait pengkondisian klasik menggunakan penelitian air liur pada seekor anjing. Ia meneliti respon anjing terhadap stimulus-stimulus yang diberikan. Untuk memahaminya kita harus mengenal beberapa istilah yang Pavlov buat :
1.      Unconditional Stimulus (UCS) adalah stimulus yang secara alami memunculkan suatu respon tertentu tanpa harus dipelajari
2.      Unconditional Response (UCR) adalah respon yang bersifat natural dan tidak membutuhkan penelitian.
3.      Conditional Stimulus (CS) adalah stimulus sebelumnya netral yang telah dipasangkan dengan suatu stimulus tidak terkondisi untuk menghasilkan respon yang sebelumnya hanya disebabkan oleh stimulus yang tidak terkondisi tersebbut.
4.      Conditional Response (CR) adalah respon yang setelah pengkondisian mengikuti suatu stimulus yang sebelumnya netral.

Pada percobaan Pavlov, anjing akan mengeluarkan saliva (UCR) ketika diberikan makanan (UCS). Namun, ketika anjing diberi bunyi bel  (Netral) anjing tidak memberikan respon. Pengkondisian terjadi ketika bunyi bel tersebut ditambahkan dengan pemberian makanan pada anjing, maka anjing akan mengeluarkan saliva. Setelah beberapa kali dilakukan, maka anjing akan mengeluarkan saliva (CR) ketika diberikan bunyi bel (CS).



Generalisasi, Diskriminasi, dan Pelenyapan.
Generalisasi stimulus adalah proses dimana, setelah suatu stimulus dikondisikan untuk menghasilkan suatu respon tertentu, stimulus yang mirip dengan stimulus asli menghasilkan respon yang sama.
Diskriminasi stimulus adalah proses yang terjadi jika dua stimulus cukup berbeda satu sama lain diama satu stimulus membangkitkan suatu respon terkondisi, namun stimulus yang lain tidak, kemampuan untuk membedakan dua stimulus atau lebih
Pelenyapan adalah fenomena dasar dari belajar yang terjadi ketika suatu respon yang sebelumnya telah terkondisi menurun dalam frekuensi dan bahkan menghilang.

Pengkondisian Operan
            Pengkondisian operan adalah pembelajaran dimana suatu respon yang disadari diperkuat atau diperlemah, tergantung pada konsekuensi yang menyenangkan atau tidak menyenangkan.
Hukum Efek menurut Thorndike adalah konsekuensi dari respon menentukan apakah respon akan dilakukan dimasa depan. Hukum  efek Thorndike menyatakan bahwa perilaku yang diikuti dengan hasil positif akan diperkuat dan bahwa perilaku yang diikuti hasil negative akan diperlemah.
Pengkondisian Operan Skinner. Dimana konsekuensi perilaku akan menyebabkan perubahan dalam probabilitas periaku itu akan terjadi, merupakan inti dari behaviorisme Skinner. Konsekuensi berupa imbalan atau hukuman.
Penguatan (imabalan) adalah konsekuensi yang meningkatkan probabilitas bahwa suatu perilaku akan terjadi. ada beberapa penguatan :
1.      Penguatan positif, adalah frekuensi respon meningkat karena diikuti dengan stimulus yang mendukung seperti guru yang memberikan tepuk tangan pada anak murid nya ketika menjawab pertanyaan.
2.      Penguat negative, adalah frekuensi respon meningkat karena diikuti dengan penghilangan stimulus yang merugikan. Seperti ketika seorang ibu memarahi anaknya yang tidak mau belajar. Anak akan belajar untuk menghilangkan marah dari ibunya.

Generalisasi, diskriminasi, dan pelenyapan.
Generalisasi adalah kemampuan individu untuk bereaksi terhadap stimulus baru yang mirip dengan stimulus yang telah dikenalinya
Diskriminasi adalah stimulus yang menghasilakan control atas perilaku subjek melalui kehadirannya yang berkelanjutan ketika respon diperkuat.

Pelenyapan adalah proses pelepasan respon belajar karena penghapusan sumber asli pembelajaran.

Resume 1 Psikologi Pendidikan

BAB 1. PSIKOLOGI PENDIDIKAN :  Perangkat untuk Mengajar Secara Efektif
SELAYANG PANDANG PSIKOLOGI PENDIDIKAN
Psikologi pendidikan merupakan cabang ilmu psikologi yang mengkhususkan diri pada cara memahami pengajaran dan pembelajaran dalam lingkungan pendidikan.
Pengajaran adalah proses pendidikan yang sebelumnya direncanakan dan diarahkan untuk mencapai tujuan serta dirancang untuk mempermudah belajar .  Menitik beratkan pada guru.
Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pengajar dan sumber belajar pada suatu linkungan belajar. Menitik beratkan pada siswa.
Latar Belakang Histori
William James (1842-1910). James adalah bapak psikologi Amerika.  Dalam memberikan serangkaian kuliah tentang “Talks to Teachers” ia mendiskusikan aplikasi psikologi pada mendidik anak. Dia menegaskan pentingnya mempelajari proses belajar dan mengajar di kelas guna meningkatkan mutu pendidikan. Salah satu cara pengajaran menurutnya adalah mulai mengajar pada titik yang sedikit lebih tinggi di atas tingkat pengetahuan dan pemahaman anak dengan tujuan untuk memperluas cakrawala pemikiran anak.

John Dewey (1859-1952). Dewey menjadi penggerak pengaplikasian psikologi di tingkat praktis. Ia membangun laboraturium psikologi pendidikan pertama di AS, di Universitas Chicago tahun 1894. Ide penting dari John Dewey :
1.      Anak sebagai pembelajar aktif (active learner). Sebelumnya ia berpendapat anak harus duduk diam dikursi agar dapat mendengar pelajaran secara pasif dan sopan. Namun, ia kembali mengemukakan pendapat baru yaitu anak akan belajar lebih baik jika mereka aktif.
2.      Pendidikan seharusnya difokuskan pada anak secara keseluruhan dan memperkuat kemampuan anak untuk beradaptasi dengan lingkungan.
3.      Semua anak berhak mendapatkan pendidikan.




E. L. Thorndike(1874-1949). Thorndike memberikan banyak perhatian pada penilaian, pengukuran, dan perbaikan dasar-dasar belajar secara ilmiah. Ia berpendapat salah satu tugas pendidikan adalah menanamkan keahlian penalaran anak. Ia juga memberikan gagasan bahwa psikologi pendidikan harus punya basis ilmiah dan harus berfokus pada pengukuran.


 Diversitas dan Psikologi Pendidikan Awal.
Pada awalnya psikologi pendidikan kebanyakan adalah pria kulit putih seperti James,Dewey, dan Thorndike. Sebelum adanya perubahan undang-undang dan kebijakan hak-hak sipil pada 1960-an, hanya segelintik tokoh non-Kulit Putih yang berhasil mendapatkan gelar dan menembus diskriminasi seperti keturunan Afrika-Amerika Mamie dan Kenneth Clark. Seperti minoritas lainnya, perempuan juga mendapatkan diskriminasi contohnya tokoh sejarah psikologi pendidikan yang sering diabaikan adalah Leta Hollingworth.
Perkembangan Lebih Lanjut
 Pendekatan Thorndike untuk studi pembelajaran digunakan sebagai panduan bagi psikologi pendidikan pada awal abad 20. Dalam ilmu psikologi Amerika, pandangan B.F.Skinner yang didasarkan pada ide-ide Thorndike, sangat memengaruhi psikologi pendidikan pada pertengan abad 20.
Cara Mengajar Yang Efektif
Guru harus menguasai beragam cara untuk mengajar. Hal ini membutuhkan dua hal utama
1.      Pengetahuan dan Keahlian Profesional
a.       Penguasaan Materi Pelajaran
Seorang guru harus mengusai materi bukan hanya fakta,istilah dan konsep umum. Namun membutuhkan pengetahuan tentang dasar-dasar pengorganisasian materi, mengaitkan berbagai gagasan, cara berfikir dan beragumen , pola perubahan dalam satu mata pelajaran, kepercayaan tentang mata pelajaran dan kemampuan untuk mengaitkan datu gagasan dari suatu disiplin ilmu ke disiplin ilmu lainya.
b.      Strategi Pengajaran
Prinsip konstruktivisme menekankan agar individu secara aktif menyusun dan membangun pengetahuan dan pemahaman. Yang artinya guru bukan sekedar memberi informasi tetapi juga mendorong anak untuk mengevaluasi dunia mereka, menemukan pengetahuan, dan lainnya.
c.       Penetapan Tujuan dan Keahlian Perencanaan Instruksional
Guru yang efektif bukan sekedar mengajar di kelas namun harus menentukan tujuan pengajaran dan merencanakan untuk mencapai tujuan itu.
d.      Keahlian Manajemen Kelas
Guru yang efektif akan mampu mengkondusifkan kelas dengan baik dan mampu membuat suasana kelas menjadi menarik.
e.       Keahlian Motivasioanal
Guru efektif harus mampu menjadi motivator bagi anak agar mau belajar dengan berbagai cara yang menarik.
f.       Keahlian Komunikasi
Keahlian komunikasi akan menjadi salah satu cara agar interaksi antara murid dan guru menjadi baik. Sehingga anak murid menjadi tertarik untuk mendengarkan guru yang sedang mengajar.
g.        Bekerja Secara Efektif dengan Murid dari Latar Belakang Kultural yang Berlainan
Didunia yang saling berhubungan secara kultural ini guru harus mengetahuo dan memahami anak dengan latar belakang dan memahami anak dengan latar belakang yang berbeda-beda dan sensitive terhadap kebutuhan mereka. Guru yang efektif mendorong murid untuk menjalin hubungan positif dengan murid yang berbeda.
h.      Keahlian Teknologi
Guru yang efektif mengembangkan keahlian teknolohi dan mengintegrasikan computer kedalam proses belajar di kelas. Integrasi ini harus disesuaikan dengan kebutuhan belajar murid yang akan membutuhkan keahlian teknologi dan keahlian berbasis kompurter.

2.      Komitmen dan Motivasi

Komitmen dan motivasi akan membantu guru yang efektif untuk melewati masa-masa yang sulit dan melelahkan dalam mengajar.




TUGAS PENDIDIKAN : "PENGAJARAN SESUAI DENGAN MASA PERKEMBANGAN"

  TUGAS PENDIDIKAN : "PENGAJARAN SESUAI DENGAN MASA PERKEMBANGAN"
Hasil gambar untuk animasi mengajar anak tk
     Kanak-kanak awal / PG TK (2-6tahun)
     1.      Masa negativis yaitu masa membangkang dimana perkembangan ego berlangsung
     2.      Masa eksplorasi yaitu masa dimana anak akan suka mencari tau tentang lingkungan sekitarnya,          mencoba hal baru, dan lainnya
     3.      Masa meniru yaitu masa anak akan mencoba untuk meniru apa yang dilakukan orang terdekatnya        seperti orang tuanya
     4.      Masa bermain yaitu masa dimana anak seharusnya memuaskan dirinya dengan bermain

    Teori Kognitif Piaget pada masa ini adalah  Praoprasional. Yaitu karekteristik utamanya adalah perkembangan bahasa , berpikir simbolis, dan berpikir egosentris

    Tingkat Perkembangan Moral menurut Kohl Berg pada masa ini adalah Prakonvesional. Pada tingkat ini, keterkaitan konkret terhadap individu dipertimbangkan dalam hal hukuman dan imbalan.

Maka dari penjabaran di atas dapat diberikan contoh belajar yang baik untuk anak usia PG/TK  yaitu belajar  :
     a.        Sambil bermain , contohnya belajar berhitung  sambil bermain jumping and clap. Dimana anak           akan menghitung 1 ketika ia berlompat 1 kali dan guru akan bertepuk tangan 1 kali juga, dan               begitu seterusnya hingga angka yang ditentukan
     b.      Mengeksplor lingkungam, contohnya ketika anak akan diajarkan untuk saying kepada alam dalam      hal berkebun, anak akan dibiarkan bermain kotor seperti bermain tanah ketika ia akan mengambil        tanah untuk tumbuhannya. Bermain air ketika hendak menyiram tumbuhannya. Dan berlari-                larikan ketika ia aktif mengeksplor.




    Masa Kanak-kanak Akhir/SD ( ± Sejak usia 6 tahun – 11 tahun)
     Masa ini ditandai dengan hal-hal sebagai berikut:
      ·         Pengaruh teman sebaya mulai dominan
      ·         Mampu berfikir logis tentang objek & kejadian
      ·         Menguasai konversi jumlah yang berat
Tahap Perkembangan kognitif pada masa kanak-kanak akhir adalah: Operasional konkret (Jean Piaget). Artinya, aktivitas mental yang difokuskan pada objek-objek peristiwa nyata atau kongkrit. Dalam upaya memahami alam sekitarnya mereka tidak lagi terlalu mengandalkan informasi yang bersumber dari panca indera,karena anak mulai mempunyai kemampuan untuk membedakan apa yang tanpak oleh mata dengan kenyataan sesungguhnya (Logika). Contohnya dalam tahap pembelajaran disekolah seperti;
Guru menujukkan bola kepada siswa,kemudian berkata,”anak-anak ini bola”. Kemudian guru menyuruh siswanya untuk mengulangi kata-kata guru, “ini apa?”, “ini bola”. Kemudian guru dapat menempelkan gambar bola di papan tulis. Dibawah gambar bola itu ditempelkan tulisan ini bola. Guru lalu menyuruh siswa membacakan kembali tulisan ini bola tadi. Tulisan ini bola dapat dianalisis menjadi kata,menjadi suku kata,suku kata menjadi huruf dan terakhir tulisan di kembalikan pada posisi semula ( kalimat)
ini bola
i   ni  bo  la
i   n  i  b  o  l  a
i   ni  bo  la
ini bola
Pada tahap ini, anak –anak juga dapat diajari metode chunking. Yaitu mengubah huruf-huruf menjadi unit-unit kata yang bermakna. Misalnya penggunaan istilah Me-ji-ku-hi-bi-ni-u, untuk memudahkan anak mengingat warna merah,jingga,kuning,hitam,biru,nila,ungu (pelangi)

Tahap perkembangan moral pada anak anak akhir adalah : Konvensional ( Kholberg)
Tahap 3: Orientasi (Good boy/girl) .Anak ingin menyenangkan dan menolong orang lain,dapat menilai niat orang lain,dan mengembangkan standar tentang bagaimana orang yang baik itu. Misalnya Arya anak kelas 3 SD melihat bekal yang dibawakan oleh temannya dari rumah tumpah, akhirnya Arya mengajak teman nya tersebut untuk berbagi dan makan bekal yang arya punya.
Tahap 4 : Orientasi otoritas. Anak cenderung tunduk atau patuh pada orang yang dihormati.
Contohnya: Saat yuni ditegur oleh petugas kebersihan sekolah karena membuang sampah sembarangan, yuni tidak peduli. Lagi lagi dia tetap membuang sampah sembarangan. Namun pada saat Guru kelasnya yang menegur yuni secara langsung, yuni pun tidak berani lagi membuang sampah sembarangan di pekarangan sekolah.

Tahap Perkembangan Socioemotional pada anak-anak akhir adalah: Tahap Industry Vs Inferiority (Erick Erikson)
Perkembangan sosial emosional pada anak-anak akhir yaitu perolehan kemampuan berperilaku yang sesuai dengan tuntutan sosial. Menurut Erikson anak-anak mengembangkan kemandirian dan  otonomi jika eksplorasi serta kebebasan mendapatkan dukungan. (Contohnya Anton telah dibiasakan oleh ibunya untuk merapikan tempat tidur setelah bangun pagi). Dan juga rasa malu dan meragukan diri sendiri ketika mereka dihambat dan terlalu diproteksi.( Misalnya, Karin  ingin sekali mengikuti lomba menari disekolahnya, namun disisi lain dia takut dimarahi oleh ibunya yang tidak mendukung dan mengijinkan nya mengikuti kegiatan apa pun diluar jam pelajaran)

       Masa Remaja / SMP& SMA (11-18 Tahun)
SMP
Pada tahap perkembangan ini, emosi cenderung meledak-ledak, tidak stabil, serta berubah-ubah. Memiliki pola pikir yang cenderung egosentris, perkembangan kognitif : operasional formal. Cara belajar yang tepat untuk tahap ini adalah  belajar dalam diskusi atau didalam kelompok. Dengan cara belajar yang demikian, mampu melatih diri untuk bisa menerima pendapat orang lain, blajar menyampaikan pendapat kepada orang lain, belajar menahan emosi. Jadi cara belajar itu tepat untuk tahap perkembangan ini.

Usia remaja pada masa SMP biasanya pola pikirnya egosentris, jadi Cara mengajar yang baik untuk anak SMP yang berada pada tahap remaja yaitu sifat mengajar dengan cara horizontal berarti kita sebagai pengajar menempatkan diri kita sama tinggi dengan siswa kita. Kita berbicara sebagai orang yang lebih dahulu tahu, bukan lebih pintar.  Kita mentransfer  ilmu, bukan member ilmu. Cara system belajarnya pun jangan terlalu otoriter, jika seperti itu maka Suasana kelas pun akan menjadi tegang, dan siswa pun akan merasa takut,  otomatis dia belajar bukan dari dorongan dirinya sendiri melainkan karena takut dengan si pengajar ata guru. Namun jika kita menyampaikan materi atau pelajaran itu secara santai atau anggaplah kita sedang bercerita tentang pengalaman sehinggai ilmu apapun itu tidak terkesan menyeramkan, sehingga siswa pun senang pada pelajaran itu dan lebih mudah memahami pelajaran tersebut.
Karena perkembangan  emosionalnya tidak  stabil atau berubah-berubah maka siswa berfikir bahwa, jika seorang pengajar menyampaikan pelajaran itu secara santai atau menarik maka otomatis siswa tersebut akan menyukai pelajaran tersebut walaupun awalnya mereka tidak suka pada pelajarnitu. Namun jika seorang pengajar menyampaikan pelajaran  itu secara otoriter atau berkesan memaksa maka siswa tersebut akan malas untuk belajar, padahal dia sangat menyukai pelajaran tersebut. Namun karena cara mengajarnya yang salah maka siswa tersebut jadi malas dengan pelajaran tersebut. Jadi dia belajar hanya karena takut maupun terpaksa, bukan atas kemauannya sendiri sehingga pelajaran yang disampaikan oleh seorang pengajar tersebut tidak diterima dengan baik.
Jadi,  bagi  para penagajar,  pada saat memasuki kelas atau mau menyampaikan materi maka harus bisa tau terlebih dahulu bagaimana cara memahami karakter-karakter siswa siswi tersebut, agar kita bisa tau bagaimana cara mengajar yang baik dan menyenangkan bagi para siswa agar mereka semangat untuk belajar, tetapi tetap harus melakukan system cara belajar-mengajar sesuai dengan peraturan yang sudah ditetapkan.

         SMA
Intelektual adalah orang yang menggunakan kecerdasannya untuk bekerja, belajar, membayangkan, mengagas, dan menjawab persoalan tentang berbagai gagasan. Pertumbuhan otak mencapai kesempurnaan pada usia 12–20 tahun secara fungsional, perkembangan kognitif (kemampuan berfikir) remaja dapat digambarkan sebagai berikut:
      1.      Secara intelektual remaja mulai dapat berfikir logis tentang gagasan abstrak.
      2.      Berfungsinya kegiatan kognitif tingkat tinggi yaitu membuat rencana, strategi, membuat                      keputusan-keputusan, serta memecahkan masalah.
      3.      Sudah mampu menggunakan abstraksi-abstraksi, membedakan yang konkrit dengan yang                    abstrak.
      4.      Munculnya kemampuan nalar secara ilmiah, belajar menguji hipotesis.
      5.      Memikirkan masa depan, perencanaan, dan mengeksplorasi alternatif untuk mencapainya                    psikologi remaja.
      6.      Mulai menyadari proses berfikir efisien dan belajar berinstropeksi.
      7.      Wawasan berfikirnya semakin meluas, bisa meliputi agama, keadilan, moralitas, dan identitas              (jati diri).
Karakteristik perkembangan intelektual remaja digambarkan oleh Keating (Syamsu Yusuf, 2004 : 195 - 196) sebagai berikut:
       1.      Kemampuan intelektual remaja telah sampai pada fase operasi formal sebagaimana konsep             Piaget. Berlainan dengan cara berpikir anak-anak yang tekanannya kepada kesadaran sendiri di           sini dan sekarang (here and now), cara berpikir remaja berkaiatan erat dengan dunia kemungkinan       (world of possibilities).
       2.      Melalui kemampuannya untuk menguji hipotesis, muncul kemampuan nalar secara ilmiah.
       3.      Mampu memikirkan masa depan dan membuat perencanaan dan mengeksplorasi berbagai               kemungkinan untuk mencapainya.
       4.      Mampu menyadari aktivitas kognitifnya dan mekanisme yang membuat proses kognitif                   tersebut efisien atau tidak efisien.
       5.      Cakrawala berpikirnya semakin luas.


Maka, dari pembahasan diatas anak SMA dapat diajarkan dengan salah satu cara yaitu konsep mind mapping yaitu membuat serangkaian pemetaan pikiran untuk dengan mudah mengembangkan pembahasan dalam point-point berangkai agar ia juga dapat mengembangkan wawasannya dalam kecakapan  berfikir dan berbicara

Mengenai Saya

Foto saya
Nama saya adalah Khadijah Zahira Haq. Panggil saja Dija atau Zahira. Saya adalah Mahasiswi Fakultas Psikologi USU angkatan 2016.
Diberdayakan oleh Blogger.